Jenis-jenis Body Shaming Di Berbagai Ruang Lingkup Kehidupan

“Duh, makin langsing aja nih sist”


Kamu harus tahu, jika Body Shaming adalah bullying berkedok candaan yang bertujuan menyinggung bentuk tubuh seseorang. Entah dilakukan secara sadar atau tidak, yang pasti perbuatan ini selalu menyisahkan energi negatif yang tak baik. Merasa dirinya lebih baik, jadi alasan teratas yang biasanya mendasari para pelaku untuk berbuat body shaming kepada orang lain.

Padahal perbuatan ini sudah diatur dalam Undang-undang, kamu yang melakukannya bisa diherat hukum hingga dikenakan hukuman penjara. Selain itu, dari data yang diungkapkan Humas Polri, sepanjang tahun 2018 lalu ada sekitar 966 Kasus Body Shaming yang ditangani p0lisi. Dengan kata lain, fakta ini jadi bukti bahwa ternyata ada banyak sekali kasus Body Shaming yang terjadi di sekitar ruang lingkup kehidupan kita.

Lingkup Pertemanan dengan Segala Bentuk Singgungan yang Konon Hanyalah Candaan

“Duh, makin langsing aja nih sist” Katamu pada seorang teman, yang ternyata berbadan besar atau bahkan tak masuk dalam kategori langsing seperti ucapanmu barusan. Walau katamu itu hanyalah sebuah candaan, percayalah tak semua orang bisa menangkap apa yang ada dalam isi kepalamu.

Bukan perkara seseorang itu terlalu sensitif atau mudah baper, tapi mendapat komentar yang tak sesuai dengan bentuk tubuh kita. Jelas jadi sesuatu yang menyinggung perasaan. Ia tahu jika bentuk tubunya mungkin tak sekurus orang kebanyakan, tapi melempar ucapan begitu terhadapnya bisa menganggu perasaannya. Kamu  tak pernah tahu, sebesar apa perjuangannya untuk melahirkan kepercayaan atas dirinya saat ini.

Dianggap Interaksi Biasa, Lingkungan Kerja Juga Rentan Body Shaming Pada Siapa Saja

Beranjak ke lingkungan kerja, bukan berarti kita bisa lepas dari singgungan perihal bentuk tubuh. Lebih dikemas rapih, para pelakunya biasanya akan menjadikan sindiran tersebut sebagai sebuah pernyataan yang tak bisa kita sanggah.

“Makanya, diet dong. Biar laki-laki di kantor ada yang kecantol”, kata seorang teman sembari senyum dan tertawa. Dengar, metabolisme tubuh setiap orang berbeda-beda. Ada yang sudah makan banyak tapi tak gendut juga, sedang yang lain makan sedikit saja sudah langsung nambah berat badannya.

Lagipula, menyarangkan orang lain diet agar punya pacar atau dilirik lawan jenis, terdengar sebagai sebuah ucapan yang cukup meremehkan. Seolah-olah ia tak pantas dilirik hanya karena bertubuh subur. Percayalah, itu melukai hatinya.

Sekalipun dalam Rumah, Tetap Ada Potensi untuk Body Shaming dari Anggota Keluarga

Berbeda dengan sang adik yang mungkin memiliki proporsi tubuh lebih tinggi dan lebih kurus. Seorang kakak yang kebetulan bertubuh subur dengan tinggi yang tak melebihi adiknya. Kerap mendapat sindirian-sindiran kecil yang mempertanyakan mengapa sang adik lebih tinggi darinya, lebih kurus, lebih cantik, atau berbagai macam penilaian lebih lainnya.

Pelakunya mungkin bukan sang adik, tapi saudara-saudara lain yang turut serta pada beberapa pertemuan yang diadakan oleh keluarga. Ya, ajang yang diharapkan jadi sesuatu yang kian mendekatkan. Bisa berubah jadi sesuatu yang menyebalkan, karena kita jadi korban ejekan hanya karena bentuk tubuh yang tak seragam.

Bahkan Ditempat Umum, Oleh Orang-orang yang Bisa Jadi Tak Kita Kenal

Hanya karena susah untuk menaiki tangga di sebuah stasiun KRL, seorang teman saya yang memang bertubuh lebih berisi dari saya pernah mendapat cibiran yang saya pikir sungguh tak penting untuk disampaikan. “Waduh ada babon lagi naik tangga”, kata seorang laki-laki sembari berlalu begitu saja.

Saya jelas marah, dan berniat untuk mengejarkan. Namun dilerai oleh teman saya, dirinya justru meminta saya untuk membiarkan bapak itu pergi. Walau teman saya meminta saya untuk melupakan ucapan yang baru saja ia terima. Jauh dilubuk hatinya, saya tahu jika ia sedang kecewa. Karena disebut ‘babon’ hanya karena tubuhnya tak sekurus perempuan pada umumnya.

Ini adalah salah satu contoh dari banyaknya orang-orang tak jelas yang sering berujar sembarangan kepada orang di depan umum. Jika kamu adalah salah satunya. Cobalah berhenti segera.

Kita Bisa Saja Jadi Pelaku dan Korban, untuk Itu Jangan Pernah Berhenti Saling Mengingatkan

Kamu mungkin jarang sadar, jika ucapan-ucapan yang kau anggap sebagai bahan candaan adalah hal biasa yang tak akan melukai hati siapa-siapa. Pada di sisi lain, beberapa orang yang mendengar ucapan tersebut kau sebutkan. Bisa saja terluka hatinya, karena merasa terhina dan memiliki hidup yang tak sesempurna manusia lainnya.

Tak ada yang bisa menahan insecure pada tiap hidup seseorang selain dirinya sendiri. Untuk itulah, cobalah untuk tak menganggu kepercayaan dirinya. Dan jika kamu adalah salah satu korban yang kerap mendapat body  shaming, tetap terima dirimu apa adanya, dan lakukan segala hal setulus yang kamu bisa.


Like it? Share with your friends!

0
1 share
Arya Wiguna

Emperor

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Comments

comments