Film Love For Sale : Sebuah Tamparan Untuk Para Sahabat Gagal Move On


Bila hari telah senja, malam hari pun tiba, hidupku yang sendiri. Sunyi. Bila senja berlalu … hati terasa pilu, hidupku yang sendiri. Sunyi.”

Bangun pagi dengan kolor putih bolong dan aktivitas garuk-garuk selangkangan, jelas jadi adegan paling menjijikan, jika harus dipertontonkan. Tapi entah kenapa, kala Gading Marteen (Richard) yang melakukannya, kita justru lebih memilih tertawa. Iya, tertawa dan merasa ingin menimpuknya.

Richard adalah seorang laki-laki 41 tahun, memilih menyibukkan diri dengan pekerjaannya memimpin sebuah usaha percetakan milik keluarga. Dan yang lebih menyebalkannya lagi, ia tinggal tepat diatas ruko tempat usahanya berada.

Ya-ya, doi memang tak perlu stress ngadepin macetnya Jakarta kalau mau kerja, Tapi kebayang kan gimana datarnya hidup dari seorang Richard. cuma-cuma disitu-situ saja! Bahkan doi bilang, ke Kemang aja nyasar!

Teruntuk kamu yang pernah putus cinta dengan alasan Agama, mungkin paham bagaimana sakitnya. Konon itu pulalah yang dirasakan oleh sang pengusaha. Hingga akhirnya memilih sendiri sampai 23 tahun lamanya. Nah kebayangkan gimana ngenes-nya Richard. Kamu yang baru menjomblo 3 bulanan mah nggak ada apa-apanya.

Demi keseimbangan hidup dan garis kewarasan yang setara, dengan tak melulu ngobrol dengan kura-kuranya di rumah. Baiknya Richard masih punya beberapa teman yang mengisi kehidupan sosial. Bahkan Ia punya salah satu teman SMA, Panji (Verdi Solaiman) yang juga dijadikannya sebagai pembimbing untuk urusan cinta. Sebab Panjilah yang paling mengerti bagaimana kondisinya.

Punya kawan memang tak selalu membuat senang, kadang juga jadi beban. Iya, beban dipaksa bawa pasangan ke kawinan. Kira-kira begitu Richard bergumam dan memutar otak demi memenuhi tantangan.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba! Kehadiran seorang perempuan bernama Arini (Della Dartyan) yang ia temukan dari salah satu aplikasi kencan. Jadi jawaban atas segala kegelisahan yang sedang mendera. Dengan beberapa briefing berisi informasi hubungannya dan teman-temannya. Akhirnya Richard menghadiri pernikahan temannya Rudy, bersama dengan Arini sebagai pacarnya.

Sang sutradara Andibachtiar Yusuf, nampaknya jadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menyuarakan kegelisahan para manusia yang sudah lama sendiri kepada penonton. Hal ini bisa kita lihat dari beberapa adegan, mulai dari meminta saran kepada teman hingga berbicara sendiri dengan hewan peliharaannya.

Babak baru dimulai, Arini datang membuat Richard jatuh hati, bahkan lebih kuat dari negara api. Punya bodi yang aduhai, mata dan bibir yang bagus, ketertarikan akan hal yang sama, perhatian, ceria, dan tak lupa jago memasak untuknya. Jadi wajar jika sepanjang bagian ini, ada beberapa suara yang akan terdengar dalam bioskop. Apalagi kalau bukan mengelu-elukan cantiknya Arini.

Menjalin hidup bersama selama 45 hari, akhirnya Richard jatuh hati. Ia merasa ada warna baru yang telah masuk dalam hidupnya, yang selama ini hanyalah abu-abu semata. Dan dari 23 tahun kesendirannya, hari-hari bersama Arini jelas jadi momen terbaik dalam hidupnya. Perempuan ini memang datang secara terencana, tapi anehnya bisa menyentuh hatinya.

Diperankan dengan ringan, semua adegan berjalan dengan natural bahkan saya merasa sedang ada disana bersama mereka. Keseriusan Gading dalam memainkan peran, hingga sorot mata Della yang terlihat ikut berbicara setiap kali berdialog dengan lawannya. Dan tak lupa pula pada aktivitas ena-ena lain yang membuat penonton baper berjamaah.

“Hidup sendiri di Jakarta memang berat. Tak semua orang bisa kuat demi menjalaninya. Dan Film Love For Sale hadir untuk menyampaikannya”

Jadi paket komplit yang sedang menangkap kehidupan sekarang, Film ini kian terasa menarik karena mengandung unsur kritik sosial yang dekat dengan masyarakat kita saat ini. Mulai dari kasus korupsi e-KTP, renovasi gedung DPR yang menghabiskan banyak uang, Acara televisi pagi hari yang menyiarkan pertengkaran rumah tangga, hingga pada Timnas Indonesia yang sedang puasa gelar.

Terbuai dalam cinta baru yang sedang hangat-hangatnya,Richard tak menyadari bahwa kontrak Arini menemaninya akan usai. Berniat untuk melamar Arini, dengan memberinya hadiah cintin disalah satu meja rumahnya. Berharap akan bangun dan menemukan cincin tersebut, Arini justru pergi dengan selembar surat perpisahan dan ucapan terimakasih.

Laki-laki ini lagi-lagi menahan kecewa, bagaimana tidak, ini jelas jadi luka yang sakit meski tak berdarah. Beberapa kali berusaha mencari, apa yang terjadi antara dia dan Arini memanglah hanya sebuah rekaan. Mulai dari orangtua sewaan, hingga pada beberapa teman Arini yang sempat ditemuinya.

Richard bisa jadi siapa saja, bisa jadi saya, jadi kamu atau jadi kita semua. Tapi bagaimana ia memaknai kehilangan, jelas jadi hal yang luar biasa. Ia berani keluar dari zona nyaman yang sudah berpuluh-puluh tahun dijalaninya. Mengganti mobil bututnya dengan sebuah motor baru, dan pergi berkelana.

Untuk urusan cinta dan rasa kehilangan, serta proses pencarian, jelas jadi tiga hal yang kerap membingungkan. Tapi ketika kita telah belajar membuka mata dan menerima, akan ada jalan untuk bisa berdamai dengan situasinya. Sampai kapan tak akan mau memaafkan? sampai kapan akan berdiam dan tak mau menerima seseorang?

Dan Richard memberi kita pelajaran, bahwa ada cara lain untuk memaknai kehilangan.


Like it? Share with your friends!

0
Arya Wiguna

Emperor

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Comments

comments